Mahasiswa mendapatkan tempat yang sangat istimewa di bumi Indonesia. Setiap pergantian pucuk pimpinan di luar pemilu ataupun dalam kondisi negara yang kacau, mahasiswa selalu menjadi ujung tombak dalam setiap perubahan tersebut. Sejak 1966 dengan trituranya, 1998 dengan gerakan reformasinya, namun dalam jangka waktu 10 tahun terakhir, mahasiswa mengalami demarketisasi gerakan di masyarakat bahkan mahasiswa. Dalam konteks gerakan secara nyata terlihat partisipasi mahasiswa dalam mengontrol dan mengawal reformasi sangatlah lemah. Gerakan mahasiswa sekarang cenderung reaksioner tanpa memberikan tekanan maupun solusi yang benar-benar nyata. KAMMI-FH UNDIP dalam gerakan mahasiswa ini juga menyadari penyakit kronis adalah pragmatisme gerakan. Pragmatisme ini bisa menjangkit secara institusi, komunal maupun individu. Parahnya kebanyakan aktivis gerakan mahasiswa ini tidak mempunyai output atau arah ideologi yang jelas. Karena itulah alumni berbagai EGM ini mengalami depolarisasi segmen gerakan. Artinya sistem politik yang dibangun di Indonesia tidak akan mampu menopang dan mewadahi demokrasi secara alami. Maksudnya terlalu banyak kompromi dalam proses politik, hal tersebut sangat tidak sehat. Melihat kiprah mahasiswa 10 tahun terakhir jelas kondisinya memprihatinkan. Disaat masyarakat memerlukan advokasi mahasiswa, sebagian besar mahasiswa telah mengalami kejumudan politik yang kronis, sehingga input aktivis mahasiswa di sospol sangat rendah, belum lagi banyaknya aktivis yang tidak "bermutu" karena memang secara ideologis tidak mengerti untuk apa bergerak kesana kemari. penyakit itu hanya bisa diobati dengan Revivalisme Gerakan Mahasiswa. Kenapa revivalisme, bukan revitalisasi? Menurut saya, gerakan sekarang benar-benar pragmatis, tanpa mengindahkan kebutuhan mayarakat kampus maupun masyarakat umum. Seringkali gerakan mahasiswa meninggalkan politik nilai dan akademis yang sebenarnya harus menjadi labek aktivis mahasiswa. Lihat kampus-kampus di Indonesia, berapa banyak yang demokrasi kampus bisa berjalan dengan sehat... _Ibnu DC-Kastrat KAMMI FH UNDIP_
Pada suatu hari saya naik bis dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya seorang bule agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hai mike! Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Dia bertanya, "Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya"?
Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama Tuhan tidak berkuasa. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya. Ia bertanya dan tidak perlu jawaban.
Untuk tidak memberi jawaban panjang saya tanya dia dulu "Could you tell me what do you mean by God?" Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.
Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan sang Bule itu mungkin kulakan dari situ. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.
Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari thawabit (permanen) tapi mutaghayyiat (berubah). Layaknya wacana furu' dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.
Hadith Nabi idha wussida al-amru ila ghayri ahliha fantaÐir al-sa'ah, (jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu [kehancuran] nya) terbukti. Katolik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa'ah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism.
Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis.
Pemikir-pemikir yang ia juluki "para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis" seperti Lessius, Mersenne, Descartes, Malebranche, Newton dan Clarke, itu justru melupakan realitas Yesus Kristus. Tapi Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.
Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya. Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe.
Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible. Tapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern.
Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Bukan hanya Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.
Tapi ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton problematik karena itu ia ditolak sains. Bahkan bagi Hegel, Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bahkan bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada, kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.
Belakangan Sartre (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. "Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam". Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber (1878-1965) seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan imej dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.
Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan fikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan "nasib" Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik jaketnya ditemukan tulisan "Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan." Kesimpulan yang sangat cerdar. Inilah masalah bagi para filosof itu.
Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang "maju" tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik.
Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subyektif. Jikapun bisa bagi Kant (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan "ada". Berfikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu di baptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.
Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. "Tuhan hanya sekedar ide", katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang "Kalau saya mencintai Tuhan", katanya, "maka saya tidak memikirkanNya lagi." Hatinya kekanan fikirannya kekiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.
Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mind-set manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang "menempuh ketiadaan yang tanpa batas".
Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim "mengusir" Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi dikepalanya topi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.
Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil. Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan Al-Quran dan hadith cukup untuk membangun peradaban.
Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks Al-Quran tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Malah kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).
Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat.
Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil alias sunt bona mixtra malis. Wallahu alam.
Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)
Alhamdulillah, akhirnya blog KAMMI komisariat Fakultas Hukum UNDIP telah mengalami pembaharuan. Harapan besar tentunya melalui media ini kita dapat bertukar pikiran demi tumbuh kembangnya paradigma islam di Indonesia. Keberadaan KAMMI di sini tidak sekedar menghangatkan pencerdasan politik kampus, namun lebih dari itu KAMMI membawa misi perubahan paradigma dalam mahasiswa. Mengapa mahasiswa??? Karena mahasiswa sekarang adalah pemimpin masa depan bagi Indonesia. Adanya perang pemikiran dalam menjatuhkan Dinul Islam akan kami lawan sampai darah penghabisan. Jujur kami butuh kritik dan saran agar keberlangsungan dakwah terus terlaksana dengan pebuh pengorbanan dan perjuangan. Allah bersama kita, ALLAHUAKBAR...!!!
Sejarah Terbentuknya KAMMI
KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). meskipun orientasinya adalah NON profit, namun kami jelaskan kepada segenap masyarakat bahwa kammi selalu menjalin link sehingga bisa berkembang dan mendapatkan dana dimana-mana. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis dakwah kampus. KAMMI lahir para ahad tanggal 29 Maret 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang.
KAMMI lahir didasari sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap krisis nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan terutama pada sektor kepemimpinan telah membangkitkan kepekaan para pimpinan aktivis dakwah kampus di seluruh Indonesia yang saat itu berkumpul di UMM - Malang.